Friday, June 16, 2017

STOP SUICIDE VICTIM BLAMMING!

" Yaampun ngapain pake bunuh diri segala sih? Lebay banget."
" Padahal kalo dia ga bunuh diri, masih ada kesempatan buat..."
" B*do banget sih!"
" Gak mikir kali ya? Punya otak gasih?"

Wah wah wah.
Akhir-akhir ini sepertinya suicidal sudah bukan berita yang mengejutkan lagi buat kita. Ya kan? Dan saking banyaknya berita tentang itu, ada banyak orang yang sudah terlalu penat mendengarnya.

Dan beberapa kalimat di paragraf awal adalah 1:10 dari sekian banyak cemoohan yang netizen lontarkan ke KORBAN BUNUH DIRI. Nah lho. Where's your humanity, my dearest netizen? Mereka yang bunuh diri, sudah terlalu banyak masalah dalam hidupnya yang kita enggak tahu, apa itu. Dan setelah berujung maut, ternyata kepahitan hidupnya belum selesau:-( banyak orang yang masih menganggapnya bodoh, tak punya otak, dan kalimat kejam lainnya.

Oke.
Aku juga gemas, geregetan dan asdfghjkl rasanya lihat orang yang bunuh diri. Bahkan dulu aku juga sering berpikir "kenapa sih harus bunuh diri? Gak bisa diselesaikan baik-baik apa?" Dan ada banyak pikiran berkecamuk lainnya yang ingin aku lontarkan.

Tapi kemudian aku bangun, tersadar. Ternyata yang bodoh itu aku, kenapa? Kenapa aku mengumpat ke orang yang bahkan nyawanya sudah hilang dan jasadnya sudah terkubur? Dan di mana juga sisi kemanusiaanku? Kenapa kita bisa sekejam itu membodoh-bodohkan orang yang sudah mengakhiri hidupnya sendiri?

Stop it netizendeul,
Let's have a rest. Mari kita berpikir, apa yang akan kalian lakukan kalo yang menjadi korban adalah orang terdekat? Sahabat atau saudara? Apakah kalian masih akan membodoh-bodohkan mereka? Kenapa kita malah menambah beban mereka, yang sudah tidak ada? Meskipun mereka sudah meninggal, tapi masih bisa mendengar apa yang kita katakan. Ih serem kok bisa? Iya, keluarganya? Sahabat-sahabatnya? Bagaimana mereka bisa menegakkan kepala kalau liat socmed dikit, isinya umpatan kasar ke korban? Jalan dikit, ditanyain "kok bisa sih dia bunuh diri? Ga mikir apa ya?" et cetera et seterah.

Daripada victim blamming, kenapa kita ga intropeksi diri masing-masing aja? Gimana kalo hal itu gak taunya malah terjadi sama kita? Huhu. So guys, kalo ada temen yang cerita uda ga punya semangat hidup, jangan malah "yodah sono lu bunuh diri aja" we never know, if those words are a sword for our friend.
Jangan disuruh bunuh diri! Tapi diajak ngomong baik-baik, dan disemangatin. Jangan pernah biarin dia sendirian. Emang lo mau sendirian gapunya temen buat nyemangatin hidup?

Have a nice day and barakallah for ramadhan!
#selfreminder

Sunday, February 26, 2017

Bersyukur :)

Pardon teman-teman, karena sangat terlalu lambat dalam update. Tidak usah dijelaskan kenapa, karena alasannya itu-itu aja. 




Alhamdulillah,
Gak bisa berhenti mengucap kalimat itu. Bersyukur, itu yang aku dapat dari kejadian kemarin.
     Jadi guys, Jumat kemarin (24/02) aku dan teman-teman kelas XII IBB mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Putra Islam Giwangan. Tujuannya, untuk silaturahmi sekaligus mohon doa restu, karena Insha Allah April nanti, kita akan melaksanakan UN.
     Begitu tiba sampai di sana, mereka sangat excited ketemu kita. Gak ada satu pun di antara mereka yang gak senyum. Dan for your big information, ternyata gak semua anak di panti ini orang tuanya sudah tiada. Lho?
     Beberapa di antara mereka, bahkan banyak dari mereka, ternyata orang tuanya masih utuh. Ada dari mereka yang memang sengaja dipasrahkan untuk tinggal di panti karena ekonomi, bahkan ada yang ditaruh(iya ditaruh) di depan panti saat masih bayi. Can you imagine those guys? :(
     Saat itu juga, aku langsung merasa menjadi orang yang begitu beruntung alhamduliah. Aku merasa malu, karena selama ini masih mengeluhkan ini dan itu. Aku hanya melihat ke atas, tidak sekalipun melirik ke bawah. Padahal, mereka jauh lebih tidak beruntung daripada aku.
     Oh ya, mereka yang tinggal di panti bermacam-macam usia. Ada yang masih balita, tk, sd, smp, bahkan sma. Dan yang membuat aku semakin terenyuh, gak ada satu pun dari mereka yang punya hp. Okay, aku juga pernah merasakan ketika aku masih smp dan berada di asrama. Tapi mereka ini bahkan gak malu (buat yang smp & sma) di zaman yang udah serba canggih, mereka tetep bodo amat gapunya hp gabisa tau update an internet. Apa mereka biasa aja kalo dibully sama temen-temennya yang lain? Yup, mereka biasa aja. Gak merasa minder sedikit pun.
     Dan sekali lagi aku bersyukur, di tengah acara, temanku ada yang sakit dan harus dibawa pulang. Salah satu anak sd, bertanya kepadaku :
👨 : Mbak, dia mau dibawa ke mana?
👧 : Oh, ke rumah dek
👨 : Rumah? Rumah siapa?
👧 : Rumahnya dia hehe
👨 : Oh rumahnya dia. Aku juga pengen pulang ke rumah...
....
     Aku cuma bisa diem aja, gak berkutik. Bahkan mereka rindu pulang ke rumahnya, yang entah itu di mana dan seperti apa. Tapi aku salut dengan mereka, karena mereka semangat dalam hidup dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, Life's must go on. Terimakasih adik-adik dan teman-teman panti, kalian pengobar kembali semangatku, pengingat untukku selalu bersyukur.
    Sekali lagi, Alhamdulillah. Thanks to Allah ❤