Wednesday, December 30, 2020

Paragraf Akhir Tahun

Tahun ini, menjadi guru terbesar dalam proses pendewasaan, bukan hanya diriku, tapi seluruh umat manusia di dunia.

Ada banyak rencana-rencana indah yang harus terpaksa gagal atau ditunda sampai entah kapan karena selebritis tahun ini yang mencekam ribuan nyawa.

Awalnya, berjuta kecewa, sedih, kesal, marah, entah berbagai perasaan meletup yang sukar dijelaskan. Kalau ini adalah layar lebar, maka aku adalah salah satu pemerannya, entah utama atau figuran, tapi yang jelas aku sudah mengemasi puluhan rencana dengan bayang-bayang indah yang kemudian berakhir berserakan. 

“ Ah kenapa sih, harus tahun ini?” 

“ Kenapa harus ditunda sih? Itu kan rencanaku sejak beberapa tahun yang lalu!”

“ MENYEBALKAN!”

Kemudian teriak, entah dengan lantang atau menjerit dalam hati. Tidak apa-apa, bebas. Namanya juga manusia, kalau tidak mengeluh, ya kecewa. Sekalinya sempurna, ingin lagi dan lagi, api kepuasan yang tidak pernah habis membara. 

Sebenarnya apa sih, maunya tahun ini? Apa tidak cukup, memporak-porandakan kesedihan yang tidak berujung larut karena setiap harinya selalu ada jiwa yang terbenam? Apa kurang, kesabaran kita selama ini karena menunda rencana yang gagal berserakan?

PLAK! Tahun ini menampar dengan keras. Bersyukur. Apa iya, aku sudah benar-benar bersyukur? Apa iya aku sudah benar-benar bersabar? 

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Bersyukur, rupanya kita adalah murid yang cukup kuat untuk menerima ilmu kehidupan dari guru kita —Tahun ini. Rupanya di balik lembaran rencana yang hancur, Tuhan menyisipkan secarik momen indah untuk kita nikmati. Kita diberikan kesempatan untuk membayar waktu-waktu yang hilang bersama keluarga. Kita diberikan disisipkan waktu untuk istirahat dari kesibukan sebelumnya. 

Tenang saja, satu rencana Tuhan akan selalu lebih indah daripada puluhan rencana yang sudah kita tata. Di lembar terakhir dari 366 halaman ini, ada berbagai syair berisi doa dan harapan bersama.

Dan besok, kita akan memulai lembar pertama dari 365 hari yang bersiap menyisipkan cerita dengan berbagai alur untuk kita syukuri.


Bukan sampai jumpa lagi,

Tapi terima kasih, 2020.


— Love, C.

Sunday, August 30, 2020

If,

 If you were the paint,

Would you color my day?


If you were the ink,

Would you scratch my name in your page?


If you were the moon,

Would you stay shine, even the dark is gone?


If you were the pancake,

Would you like me to add some mapple syrup?


If you were the dessert,

Would you be a cake or pudding?


If you were mine,

Would you laugh when you hear my laughter? Would you wipe my tears when I cry? Would you give me a warm hug at my lowest? Would you never turn back from me?


Would you?

Saturday, March 21, 2020

The Day 6

It’s been almost a week I quarantined myself. Social distancing, or whatever people call that. At first, I was being like those ignorance people, pretending like nothing happened because of this virus. I was like, Ah, the virus still far away, and not much people got affected (at that time) in my city. I was also so brave to going anywhere, chilling out there without worry anything.

But everytime I go home, my mom always welcoming me with anger. Saying Am I can’t take care of myself? Am I not reading any articles? Watching news? And she continue to text me some posts contain prayers every morning, so that I will be safe and protected. She also never tired to reminds to for always wearing mask, bring handsanitizer, social distancing, bring some water, and of course praying.

I was on an internship program, and when I go in the afternoon, I saw very rare things. Either the roads or some places were so quiet. My city was like… dying. And then I realized, this virus is more than serious.

I started to read and watch some news about this virus. Almost everyday I check my social media, not for showing off some fame or glamorous, but looking for how many victims that increased. And suddenly, I was so afraid. I am afraid that my dreams will failed. And it’s true, almost everything that I planned, I prepared so well, far days, canceled.

All schools, colleges, and workplaces, include mine, are lockdowned. I go back to home and even untill this second, I haven’t take myself to anywhere. Everything paced online, and I being so emotional. There are still a lot of my friends are being so ignorance. They don’t understand anything about social distancing, and still in their fun way, chilling, and hanging out. I told them to please, just stay at home, it’s dangerous out there, but yea ofc, they don’t even care. Some of them started thinking, that us, who staying at home, got no courage to going out, are exaggerated. I mean, they think that it’s holiday, but no… I think, it’s the phase of lockdown, slowly. So terrible. I never expected, that this virus will be so dangerous.

Everytime I watch the news, will always there any victims, or maybe decrease… because died. And everytime I see Instastories, there are still a lot of people who ignorance. You know what? You guys are so mean. You still have dreams and families.

Everyone is hiding, seeking for safe places and choose to stay at home, make sure that the whole family is safe, and praying everyday. Well indeed, I, myself, have no rights to push you all to staying at home. But what I know is… we are sisters, brother, we are family. And taking care each other, is what family do. You still have to reach your dreams, and the family still love you. So you should… no, you HAVE TO love yourself and please, just stay at home.

#BeSafe
#StayAtHome
#Covid-19

Sunday, March 1, 2020

You, Coffe, and Rain.

You love coffe,
Just like me, who never get bored everytime I see your face.
And sometimes, I copied your moves. When you smile, I do smile, even tho I don’t know the reason. When you pout your lips, it dragging my mood down either, even tho I don’t know why.
But it’s fine, we don’t have to tell everything. Sometimes, just by looking each other, we knew. Right? I think it’s right, eyes speak.
And when the rain is coming,
You drink coffe.
Isn’t that bitter? Why don’t you just drink chocolate instead? It warms your body. But you said, coffe is also warming. Then I try, but still, it’s bitter!
You laugh, and then put your hands on my shoulder. Ah, you are right, it feels warm.
Well, do you know that it’s raining?
Are you drink coffe right now?
I am cold.


The raining sunday, 
You love coffe and I love you. 

Monday, September 16, 2019

Bye grammars


To the person, who lately pop out in my mind

Here I write the deepest sound of my heartbeat,
in simple words.

You are the night,
With a moon as your eyes, and stars as your soul.
It was, and still beautiful. Everything is dark, but I still can see your hazel eyes.

You are the silence,
That without saying any words, I understand.
Everything seems quiet,
But I can feel your heartbeat. So you do.
Our eyes closed, but we still can find each other.

To the soon, emerald of my heart,
the one and only, who conquered the soul of mine.

All of the dozen days,
Monday to Sunday are just quite the same,
but you put a hundred color inside, by yourself as the palette.

And if you was a mistake,
I'll happily repeat the same thing again without any doubt,
And it would be, definitely you, again.

And again.


—Does into you need grammars?

Saturday, November 3, 2018

Untukmu, Perempuan Tangguh

Jatuh cinta itu sakit.
Namanya juga jatuh,
Yang membedakan adalah apakah jatuhmu itu terbalaskan perasaan yang sama, atau diabaikan begitu saja.

Mungkin bagi kamu,
Perempuan tangguh,
Disakiti sudah menjadi detak dalam nadimu.
Kata orang mungkin kamu terbiasa,
Karena terlalu sering jatuh dan pada nyatanya kamu bisa bangkit lagi.
Tapi aku bilang,
Seberapa seringnya kamu tersakiti, itu bukan terbiasa.
Itu tangguh. Dan kamu hebat.

Kamu dihadapkan dengan dua pilihan,
Memilih untuk tetap bertahan dengan sayatan luka yang kian menggores, atau bangkit membuka lembaran baru.

Kamu yang memilih untuk bertahan, kamu tangguh.
Bukan bodoh, atau buta tuli sekalipun.
Namanya saja cinta, siapa bilang tidak buta?
Coba saja balik memposisikan menjadi dirimu, baru mereka akan diam dan mengiyakan perasaan yang katanya bodoh itu.
Tapi kalau bertahan hanya akan membunuh hatimu perlahan, lalu untuk apa?
Luka yang kamu terima,
Bahkan pula mati rasa yang kamu dapat.

Sedang kamu yang memilih untuk bangkit,
Itu juga tangguh.
Bangkit tidak semudah mengedipkan mata.
Hati kamu mungkin terluka,
Bahkan bisa jadi mati rasa.
Tapi hatimu bukan batu.
Ia bisa terkikis seiring berjalannya waktu,
Jangan bohongi dirimu.
Kamu bisa saja memang terlihat kuat,
Tapi di lubuk dalam tidak bisa menipu, bahwa kamu juga lebih rapuh.

Perempuan tangguh,
Jangan hilangkan senyummu. Bahagia itu sederhana,
Siapa yang tahu, hanya dengan melihat senyummu mereka juga ikut menarik bibirnya? Semudah itu, sesederhana itu.
Jangan sembunyikan senyummu hanya karena kenangan yang ditinggalkannya.

Hidupmu masih panjang,
Roda juga berputar
Untuk apa menghancurkan diri perlahan jika kamu bisa mendapatkan yang lebih baik?
Klise memang, kalimat "kamu pasti akan mendapat yang lebih baik."
Tapi tidak bisa dipungkiri, karen itu benar adanya. Kamu pasti, iya, bukan mungkin atau akan, tapi pasti.
Hatimu sudah terjamin dengan ketangguhanmu.

Oh iya satu lagi,
Kamu berhak mencintai. Dan dicintai :)

Friday, June 15, 2018

Dapat Darimana?

Yep, sepele memang —kisahnya hanya seputar tentang si A yang menulis di instastory, lalu oleh si B tulisannya direpost TAPI ga pake cantumin sumber kalo itu tulisan si A, entah lupa atau sengaja tapi fenomena seperti ini ga hanya terjadi sekali dua kali saja. Awalnya olehku atau kamu mungkin biasa saja " Oh mungkin dia lupa." Kedua kalinya, " Gapapa lah, temenku doang. Lalu ketika mencoba mengubah dari tulisan ke gambar/meme (tapi bikinan sendiri dong ya hehe), lagi-lagi direpost TANPA mencantumkan sumber.

Kesal? Sedikit. Lalu segala pemikiran itu berubah ketika orang-orang mulai beranggapan bahwa karya orisinil kita yang sesungguhnya adalah milik orang lain a.k.a sang perepost. Lemme give you a simple example : ketika temanmu merepost hasil karyamu apapun itu, namun tanpa mencantumkan sumber, lalu kamu mengirim hasil karyamu ke chat grup. Dibalaslah oleh netizen " Oi itu kan gambar punya si X ga si?" " Eh itu kan gambarnya si Y?" " Bagus ya gambar si Z? Aku juga suka!" Geram? Sudah sangat di ambang batas. BIG NOTE jika kalian mengira " kenapa ga diingetin?" " Coba diomongin baik-baik deh." Tentu saja, sebelum membuat tulisan ini aku udah mencoba semua hal yang kalian kira-kira itu dan finally I decided to use a watermark in every single masterpiece (wagelase) I make. Hehehe sounds lebay? Iya mungkin, karena yaa memang aku bukan siapa-siapa atau orang besar yang karyanya bisa direpost siapapun tapi tidak sedikit juga yang kadang merepost ehehe (lah gmn si?) And guess what? Setelah aku pakai watermark, mereka yang tadinya suka ngerepost karyaku tanpa sumber mulai bertanya-tanya yang uhm lebih ke protes sih — " Lah kok dikasih watermark sih?" " Ga asik ah, jadi kaya aneh gt" " Kaya orang terkenal aja deh pake watermark aja"

Oke so, yang mau aku tekanin di sini adalah ayolah guys, trying to appreciate people's masterpiece by NEVER FORGET put the source. Iya, ga susah kan? Dan aku yakin, ga cuma aku yang mengalami hal seperti ini. Hayo diingat lagi coba, dulu waktu pelajaran bahasa Indonesia sudah pernah diajari tentang pentingnya mencantumkan sumber di setiap teks kan? Apalagi kalau kamu udah kuliah, pastilah ada daftar pustaka atau catatan kaki untuk setiap tugasmu. Sepele banget kan ya? Boleh saja kalian berpikir aelah lebay amat cuma gegara ga cantumin sumber doang, well itulah artinya apresiasi dan menghargai —kecil tapi besar nilainya bagi kita. Untuk kalian yang sudah selalu mencantumkan sumber, terima kasih banyak, terus lanjutkan! Dan yang belum? Yuk, berusaha menghargai setiap karya orang!

—with love,
Caca.